Puasa sunnah tanggal 8 dan 9 dzulhijjah

Hadits dengan lafadh :

“Artinya : Puasa pada hari tarwiyah menghapuskan (dosa) satu tahun, dan
puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun”.

Diriwayatkan oleh Imam Dailami di kitabnya Musnad Firdaus (2/248) dari jalan.

1. Abu Syaikh dari :
2. Ali bin Ali Al-Himyari dari :
3. Kalby dari :
4. Abi Shaalih dari :
5. Ibnu Abbas marfu’ (yaitu sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam).

Saya berkata : Hadits ini derajatnya maudhu’.

Sanad hadits ini mempunyai dua penyakit :

Pertama : Kalby (no. 3) yang namanya : Muhammad bin Saaib Al-Kalby. Dia ini seorang rawi pendusta. Dia pernah mengatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Apa-apa hadits yang engkau dengar dariku dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas, maka hadits itu dusta” (Sedangkan hadits di atas Kalby riwayatkan dari jalan Abu Shaalih dari Ibnu Abbas).

Imam Hakim berkata, “Ia meriwayatkan dari Abi Shaalih hadits-hadits yang maudhu’ (palsu)”. Tentang Kalby ini  dapatlah dibaca lebih lanjut di kitab-kitab Jarh wat Ta’dil :

1. At-Taqrib 2/163 oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar.
2. Adl-Dlua’faa 2/253, 254, 255, 256 oleh Imam Ibnu Hibban
3. Adl-Dlua’afaa wal Matruukkin no. 467 oleh Imam Daruquthni.
4. Al-Jarh wat Ta’dil 7/721 oleh Imam Ibnu Abi Hatim.
5. Tahdzibut Tahdzib 9/5178 oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar

Kedua : Ali bin Ali Al-Himyari (no. 2) adalah seorang rawi yang majhul
(tidak dikenal).

Kesimpulan :

1. Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) adalah hukumnya bid’ah. Karena hadits yang mereka jadikan sandaran  adalah hadits palsu/maudhu’ yang sama sekali tidak boleh dibuat sebagai dalil. Jangankan dijadikan dalil, bahkan membawakan hadits maudlu’ bukan dengan maksud menerangkan kepalsuannya kepada umat, adalah hukumnya  haram dengan kesepakatan para ulama.

2. Puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) adalah hukumnya sunat sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawah ini.

“Artinya : …dan puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) -aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari Aasyura’ (tanggal 10 Muharram) -aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu” [Shahih Riwayat Imam Muslim 3/168, Abu Daud no. 2425, Ahmad  5/297, 308, 311, Baihaqi 4/286 dan lain-lain].

Kata ulama : Dosa-dosa yang dihapuskan di sini adalah dosa-dosa yang kecil. Wallahu a’lam !

sumber : http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/21517

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.