Kisah Imam Ahmad ibn Hanbal dengan seorang Tukang Roti

Imam Ahmad adalah seorang yang sering bepergian untuk menuntut ilmu. Walaupun beliau sudah berilmu dan terkenal, namun jika beliau mengetahui bahwa seseorang di suatu tempat mempunyai suatu ilmu yang beliau tidak memilikinya (misal : hadith), maka beliau akan “mengejarnya”. Walaupun tempat itu di ujung dunia. Dan beliau tidak pernah mengumumkan kepergiannya, sehingga orang-orang yang berada di tempat tujuannya tidak sepenuhnya tahu akan kedatangan beliau. Beliau murni bepergian hanya ingin menuntut ilmu.
Walaupun nama beliau sudah terkenal, namun tidak semua orang tahu wajah beliau.

Suatu ketika sampailah beliau di Negeri Syam. Karena tidak ada seorangpun yang beliau kenal, maka Masjidlah tujuan utamanya untuk bermalam. Namun saat malam tiba, Penjaga Masjid mengatakan pada beliau bahwa malam telah larut, masjid akan dikunci, kau tidak boleh berada didalam, dll.
Imam Ahmad bisa saja dengan mudah mengatakan, “tahukah kau siapa aku? Aku ini adalah Imam Ahmad”. Namun beliau tidak mengatakannya. Beliau lebih suka “berdebat” sebagai orang biasa. Beliau mengatakan bahwa dia datang dari jauh, sedangkan disini tidak mengenal siapapun, dll, namun Penjaga yang “ta’at” tetap tidak memperbolehkannya. “Perdebatan” pun berakhir dengan ditariknya kaki Sang Imam kemudian dilemparkan keluar Masjid. Kemudian penjaga itu pergi begitu saja setelah mengunci Masjid.

Tukang Roti yang sedang bekerja dan mempunyai tempat di seberang Masjid melihatnya. Dia kemudian datang menghampiri lalu mengatakan kurang lebih, “Kau bisa beristirahat di tempatku”. Dia pun mempersiapkan semacam alas tidur beserta bantalnya untuk Imam Ahmad. Dari tempatnya beristirahat, beliau bisa memperhatikan Tukang Roti itu bekerja. Jaman dahulu, roti yang siap disantap dipagi harinya membutuhkan waktu semalaman untuk membuatnya.

Selama dia bekerja, Tukang Roti itu berdhikir dengan mengucapkan Subhaanallaah, Walhamdulillaah, walaa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, secara terus menerus.
Karna kagum dengan perbuatannya, beliau pun bertanya, “Sudah berapa lama kau melakukan seperti itu?”.
Tukang Roti balik bertanya, “Melakukan apa?”.
Beliau menjawab, “Berdhikir seperti itu”.
“Tahunan”, Jawab Tukang Roti.
Imam Ahmad bertanya lebih lanjut, “Buah (ganjaran) apa yang kau peroleh dari melakukannya?”.
Tukang Roti menjawab, “Aku tidak pernah meminta sesuatupun dari Allaah, kecuali Dia mengabulkannya”.
“Benarkah Allaah selalu mengabulkan permintaanmu?”, tanya Imam Ahmad.
“Benar… Kecuali satu hal”, jawab Tukang Roti.
“Apakah itu”, tanya Imam Ahmad.
“Aku berdo’a supaya bisa bertemu Imam Ahmad, dan sampai sekarang aku masih menanti jawaban atas do’aku”, Jawabnya.
Beliau kaget mendengarnya. Kemudian beliau berkata, “Benarkah? Aku Ahmad”.

Tukang Roti itu memperhatikan beliau, meyakinkan dirinya, menangis, dan memeluk beliau lalu mengatakan, “Aku sudah menantikan untuk bertemu denganmu seumur hidupku”.
Imam Ahmad berkata, “Subhaanallah, Dialah Allaah yang telah membawakanmu Ahmad dengan menyeret kakinya menuju tempat Rotimu. Jika kau tidak pernah berdo’a seperti itu, mungkin tadi aku bisa tidur di Masjid. Semua perdebatanku dengan penjaga Masjid adalah karna do’a mu”.

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s